Cerita Panji adalah karya cipta yang merupakan simbol pertama kebangkitan sastra lisan dari Jawa Timur sebagai wilayah kerajaan besar yang menyatukan nusantara. Dari sudut tertentu, Cerita Panji bahkan dapat bersanding dengan dua epos raksasa yaitu Mahabarata dan Ramayana yang penyebarannya beriringan dengan agama Hindu di Jawa. Sehingga Cerita Panji menjadi sebuah alternatif atau produk budaya sanding (kalau tak disebut budaya tanding - counter culture) seniman Jawa pada masa itu terhadap dua epos tadi. Terlebih wilayah penyebarannya hingga ke berbagai daerah di nusantara hingga ke seluruh wilayah Asia Tenggara, terutama Thailand dan Madagaskar.
Bermula dari sastra lisan, Cerita Panji kemudian merasuk dalam berbagai seni pertunjukan rakyat. Dalam perkembangannya, muncul berbagai varian baru cerita Panji dalam pertunjukan tersebut sehingga semakin menambah kekayaan khasanah sastra lisan tersebut. Hal ini tidak terlepas dari kreativitas dalang atau komunitas setempat yang menghidupi masing-masing seni pertunjukan itu. Dalam pertunjukan Wayang Topeng misalnya, banyak ditemukan lakon-lakon baru yang bersumber dari cerita Panji. Demikian pula dalam seni pertunjukan lainnya yang juga berbasis cerita Panji. Sementara ada pula seni pertunjukan yang seperti menggenggam erat cerita Panji seolah-olah menjadi pakem yang tak perlu diubah.
Dalam seni pertunjukan itu lantas juga muncul karya-karya tari yang bernuansa cerita Panji, seperti Tari Gunungsari, Tari Panji, Tari Ayon-ayon (Tari Golek Ayun-ayun?) dan sebagainya. Sementara itu, visualisasi cerita Panji dari sastra lisan menjadi seni pertunjukan melahirkan konsekuensi tersendiri, yaitu menghadirkan bentuk fisiknya sendiri, terutama dalam hal perwajahan. Dalam Wayang Beber misalnya, sosok-sosok pelaku dalam cerita Panji muncul dalam bentuk seni rupa dua dimensi yang sangat berbeda dengan sosok wayang pada umumnya. Visualisasi tokoh-tokoh dalam wayang Beber ini sangat unik, bahkan mirip dengan seni rupa modern di Barat yang tentu lahirnya lebih belakangan ketimbang Wayang Beber itu sendiri. Demikian pula visualisasi tokoh-tokoh cerita Panji dalam Wayang Topeng misalnya.
Dari latar belakang seperti itulah maka diselenggarakan acara bernama ETALASE BUDAYA PANJI dengan memfokuskan dari sisi keseniannya.
MAKSUD DAN TUJUAN
Menciptakan suatu forum untuk menunjukkan kekayaan budaya Panji dalam berbagai bentuk ekspresi kesenian.
Mengajak berbagai pihak (termasuk kalangan generasi muda) untuk peduli terhadap budaya Panji sebagai potensi budaya Jawa Timur yang layak dikenali dengan baik sebagai sumber kreatif.
Mempromosikan obyek wisata budaya dalam kaitannya dengan budaya Panji.
Menciptakan peluang industri kreatif berbasis budaya Panji kepada masyarakat.
WAKTU DAN TEMPAT
Diselenggarakan tanggal 15 - 22 November 2009
di Pendapa Utama Candi Penataran, Kab. Blitar
dan kompleks Makam Bung Karno (amphitheater dan perpustakaan) , Kota Blitar
PENYELENGGARA
Dewan Kesenian Jawa Timur, bekerjasama dengan
Dewan Kesenian Kota Blitar dan
Dewan Kesenian Kabupaten Blitar
PESERTA
- Seniman - Budayawan
- Kalangan pelajar
- MGMP Kesenian
- Masyarakat setempat
JADWAL ACARA
Minggu – Minggu: 15 – 22 November 2009
Pameran di Perpustakaan Nasional Bung Karno
(Dibuka mulai Minggu pagi, 15 November 2009)
- Lukisan Wayang Beber
- Pameran Komik Panji, Narsen, Surakarta
- Pameran Topeng Panji (koleksi Reno Surabaya dan Malang)
- Pameran Wayang Krucil (Kediri)
- Pameran Wayang Thengul (Bojonegoro)
- Pameran dan Peragaan Batik motif Panji (Banyuwangi)
- Pameran Buku-buku Panji
Minggu, 15 November
Tempat : Amphitheatre, Kota Blitar
Pukul 18.00 :
Pembukaan
Peragaan Busana Batik (Blitar)
Mocopat Panji (Blitar)
Peragaan Tari Topeng (Blitar)
Pemutaran Film Animasi Panji (karya Narsen)
Sarasehan Budaya Panji
Sabtu, 21 November
Tempat : Altar Candi Penataran
Pukul 13.00 – 17.00:
- Reog Ponorogo, Blitar
- Pembukaan (sambutan-sambutan)
- Mocopat Panji (Klaten)
- Tarian Topeng Sandur Jombang
Pukul 19.00 – selesai
- Kentrung Sumeh, Blitar
- Jaranan Ketoprak (Japrak), Blitar
Minggu, 22 November
Pukul 09.00 – 12.00: Sarasehan Peduli Penataran
Pukul 13.00 – 17.00:
- Jaranan Senterewe, Kediri
- Tari Gunungsari, Malang
Pukul 19.00 – selesai
- Penutupan
- Wayang Beber, Pacitan
- Wayang Topeng, Malang
ACARA PENDUKUNG
Pasar Rakyat di Penataran
Festival Dolanan Anak
KEPANITIAAN
Penanggungjawab : Ketua Umum Dewan Kesenian Jatim
Ketua : Nasar Bathati
Panitia Pengarah : Henri Nurcahyo, Heri “Lentho” Prasetyo, Syahlan Husein, Meimura
PO. Pagelaran : Rakhmad Giryadi
PO . Pameran : Nonot Sukrasmono
PO . Sastra : Mashuri
PO . Pemutaran Film : Mahayana Wisnu Wardhana, Galih S. Ahmad
Panitia Pelaksana :
- Dewan Kesenian Kabupaten Blitar
- Dewan Kesenian Kota Blitar
Surabaya, 22 Oktober 2009
Kontak person:
1.Henri Nurcahyo 08123100832
2.Nasar Bathati 081 730 6239
3.Syahlan Husain 08175241219
Informasi:
Dewan Kesenian Jawa Timur
Jl. Wisata Menanggal
Surabaya 60234
Telp/fax 031-8554304
Email:dk_jatim@ yahoo.com
www.brangwetan. com
www.dewankesenianja tim.com
Tampilkan postingan dengan label festival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label festival. Tampilkan semua postingan
17/11/09
17/11/08
FESTIVAL KAMPOENG TOEGOE
Kompleks Gereja Toegoe, Sabtu 15 November 2008, 10.00-14.00 WIB
Menampilkan Pameran Foto Etnografi Masyarakat Kampung Tugu dan Penampilan Khusus Kerontjong Toegoe dan Kesenian Portugis dan Timor Leste
Dihadiri oleh Para Duta Besar Empat Negara Sahabat yang berbahasa Portugis (Portugal, Brasil, Mozambik, Timor Leste) dan dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta
Informasi: yayasan.fkai@ gmail.com, 021-32726386
Lokasi: Kompleks Gereja Tugu merupakan Cagar Budaya yang berada di Jl. Raya Tugu, Kelurahan Semper Utara, Jakarta Utara. Menuju kesana (kalau dari Tol, turun di Plumpang, puter balik kanan, lalu belok kiri masuk ke jalan masuk Plumpang, lalu saat ada pertigaan ambil yang kiri. Jalan raya Tugu biasanya dipadati oleh Truk-truk kontainer yang sedang parkir.
Press Release/Introductio n:
KAMPUNG Â TUGU
Jejak Portugis di Jakarta
Â
           Orang Tugu adalah  warga asli Kampung Tugu di daerah Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Mereka telah hidup di sana selama lebih dari tiga setengah abad, sejak pertengahan abad ke-17, saat Jakarta masih disebut Batavia dan menjadi kota pusat kekuasaan perusahaan dagang Belanda di Hindia Timur (VOC). Â
           Nenek moyang orangTugu adalah orang Portugis yang berasal dari Malaka. Mereka dibawa ke Batavia sebagai tawanan perang setelah pasukan VOC merebut kota pelabuhan di Semenanjung Melayu itu dari tangan Portugis  pada 1641.
           Menurut catatan sejarah, tawanan perang yang diangkut pulang ke Batavia dari Malaka ketika itu berjumlah 23 keluarga atau 150 jiwa. Sebagian besar merupakan orang-orang berdarah campuran, hasil perkawinan lelaki Portugis dengan perempuan lokal asal berbagai daerah koloni Portugis di Asia, seperti Malabar, Kalkuta, Surat, Pantai Koromandel, Goa, dan Ceylon (Sri Lanka), serta dari Malaka sendiri.
           Di Batavia, mereka dimukimkan oleh Kompeni Belanda di daerah Tugu, sekiar 20 kilometer sebelah tenggara kota pelabuhan itu. Tugu ketika itu masih berupa kawasan hutan dan rawa-rawa yang merupakan sarang nyamuk malaria dan berbagai sumber penyakit lain. Di sana mereka berusaha bertahan hidup dengan berburu binatang liar, menangkap ikan, dan mengumpulkan hasil hutan.Â
           Setelah memeluk agama Kristen Protestan, agama resmi Kerajaan Belanda, mereka yang awalnya beragama Katolik dibebaskan dari status sebagai tawanan perang. Itu sebabnya, mereka lalu juga disebut de mardijkers atau orang merdeka.  Sebuah gereja dibangun bagi mereka yang juga telah bersedia menghapus nama-namakeluarga Portugis, dan menggantinya dengan nama-nama Belanda.  Â
           Populasi orang Kampung Tugu kini diperkirakan sekitar 1.200 jiwa. Kurang-lebih separuhnya, yakni 600 orang, masih tinggal dan bekerja di Kampung Tugu, terutama di sekitar gereja tua mereka.    Â
           Sekitar 500 orang Tugu lainnya kini tinggal di Belanda. Mereka adalah keturunan orang-orang Tugu yang pada tahun 1950 melakukan eksodus ke Hollandia (Jayapura, Papua), sebelum kemudian bemigrasi ke Belanda lewat Suriname . Sisanya yang sekitar 100 orang saat ini bermukim tersebar di berbagai daerah lain di Indonesia, termasuk di Jayapura.
           Di mana pun mereka berada, orang-orang Tugu merasa bersaudara satu dengan yang lain. Pertautan darah, kesamaan sejarah, serta ikatan kebudayaan merupakan hal-hal yang selalu dapat menyatukan pikiran dan perasaan mereka. Â
           Masyarakat Kampung Tugu kini ikut menjadi bagian dari masyarakat Jakarta yang majemuk. Warisan kebudayaannya yang khas, termasuk musik kroncongnya, bahkan dapat dianggap sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan nasional yang tak ternilai harganya.
Â
'Two things are infinite: The Universe and Human Stupidity; and I'm not sure about the universe.'
- Albert EinsteinÂ
Menampilkan Pameran Foto Etnografi Masyarakat Kampung Tugu dan Penampilan Khusus Kerontjong Toegoe dan Kesenian Portugis dan Timor Leste
Dihadiri oleh Para Duta Besar Empat Negara Sahabat yang berbahasa Portugis (Portugal, Brasil, Mozambik, Timor Leste) dan dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta
Informasi: yayasan.fkai@ gmail.com, 021-32726386
Lokasi: Kompleks Gereja Tugu merupakan Cagar Budaya yang berada di Jl. Raya Tugu, Kelurahan Semper Utara, Jakarta Utara. Menuju kesana (kalau dari Tol, turun di Plumpang, puter balik kanan, lalu belok kiri masuk ke jalan masuk Plumpang, lalu saat ada pertigaan ambil yang kiri. Jalan raya Tugu biasanya dipadati oleh Truk-truk kontainer yang sedang parkir.
Press Release/Introductio n:
KAMPUNG Â TUGU
Jejak Portugis di Jakarta
Â
           Orang Tugu adalah  warga asli Kampung Tugu di daerah Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Mereka telah hidup di sana selama lebih dari tiga setengah abad, sejak pertengahan abad ke-17, saat Jakarta masih disebut Batavia dan menjadi kota pusat kekuasaan perusahaan dagang Belanda di Hindia Timur (VOC). Â
           Nenek moyang orangTugu adalah orang Portugis yang berasal dari Malaka. Mereka dibawa ke Batavia sebagai tawanan perang setelah pasukan VOC merebut kota pelabuhan di Semenanjung Melayu itu dari tangan Portugis  pada 1641.
           Menurut catatan sejarah, tawanan perang yang diangkut pulang ke Batavia dari Malaka ketika itu berjumlah 23 keluarga atau 150 jiwa. Sebagian besar merupakan orang-orang berdarah campuran, hasil perkawinan lelaki Portugis dengan perempuan lokal asal berbagai daerah koloni Portugis di Asia, seperti Malabar, Kalkuta, Surat, Pantai Koromandel, Goa, dan Ceylon (Sri Lanka), serta dari Malaka sendiri.
           Di Batavia, mereka dimukimkan oleh Kompeni Belanda di daerah Tugu, sekiar 20 kilometer sebelah tenggara kota pelabuhan itu. Tugu ketika itu masih berupa kawasan hutan dan rawa-rawa yang merupakan sarang nyamuk malaria dan berbagai sumber penyakit lain. Di sana mereka berusaha bertahan hidup dengan berburu binatang liar, menangkap ikan, dan mengumpulkan hasil hutan.Â
           Setelah memeluk agama Kristen Protestan, agama resmi Kerajaan Belanda, mereka yang awalnya beragama Katolik dibebaskan dari status sebagai tawanan perang. Itu sebabnya, mereka lalu juga disebut de mardijkers atau orang merdeka.  Sebuah gereja dibangun bagi mereka yang juga telah bersedia menghapus nama-namakeluarga Portugis, dan menggantinya dengan nama-nama Belanda.  Â
           Populasi orang Kampung Tugu kini diperkirakan sekitar 1.200 jiwa. Kurang-lebih separuhnya, yakni 600 orang, masih tinggal dan bekerja di Kampung Tugu, terutama di sekitar gereja tua mereka.    Â
           Sekitar 500 orang Tugu lainnya kini tinggal di Belanda. Mereka adalah keturunan orang-orang Tugu yang pada tahun 1950 melakukan eksodus ke Hollandia (Jayapura, Papua), sebelum kemudian bemigrasi ke Belanda lewat Suriname . Sisanya yang sekitar 100 orang saat ini bermukim tersebar di berbagai daerah lain di Indonesia, termasuk di Jayapura.
           Di mana pun mereka berada, orang-orang Tugu merasa bersaudara satu dengan yang lain. Pertautan darah, kesamaan sejarah, serta ikatan kebudayaan merupakan hal-hal yang selalu dapat menyatukan pikiran dan perasaan mereka. Â
           Masyarakat Kampung Tugu kini ikut menjadi bagian dari masyarakat Jakarta yang majemuk. Warisan kebudayaannya yang khas, termasuk musik kroncongnya, bahkan dapat dianggap sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan nasional yang tak ternilai harganya.
Â
'Two things are infinite: The Universe and Human Stupidity; and I'm not sure about the universe.'
- Albert EinsteinÂ
Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 se-DIY
Bagi masyarakat Yogyakarta , kethoprak sudah menjdi kesenian yang sangat digandrungi, baik di pedesaan maupun perkotaan. Untuk itu, perlu kethoprak terus ada upaya untuk melestarikan, mengembangkan, serta menjaga keberadaanya. Selain menjadi sarana yang mampu menghadirkan hiburan, kethoprak, juga mampu memberi pencerahan atas perbagai problematik sosial yang ada ditengah masyarakat saat ini.
Berangkat dari hal diatas itulah Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 se-DIY menjadi penting, sebagai upaya untuk melestarikan kesenian kethoprak. Selain itu, keberadaan Festival Kethoprak ini juga diharapkan mampu menjawab persolan regenerasi pelukan kethoprak yang selama ini menjadi keprihatinan para pelaku dan pencinta kethoprak.
Bondan Nusantara, tokoh ketoprak dan mantan pengurus FKKB adalah salah satu yang merasa prihatin atas degenerasi ketoprak di DIY. Ia khawatir ketoprak akan punah. Untuk itu, dibutuhkan pembibitan dan penyegaran. Festival ketoprak antar pelajar menjadi salah satu jawaban.
Seretnya regenerasi ketoprak di DIY terjadi setelah akhir era 1980-an. Banyak faktor yang jadi kendala: eksternal dan internal. Secara eksternal, di Yogyakarta dan sekitarnya tidak lagi ada tobong (panggung permanen) ketoprak seperti pada era 1960-1980-an.
Pada era tersebut kita bisa menyebut beberapa grup ketoprak yang nobong, antara lain, Ringin Dahana, Kridha Mardi, Sapta Mandala, PS Bayu Gito-Gati dan Sinar Mataram, serta Padmanaba. Akhir 1980-an, Ketoprak Surya Budaya pimpinan aktor Widayat main di Panggung bekas THR (sekarang Purawisata), namun tidak setiap hari.
Hilangnya tobong ketoprak menjadikan para pelaku ketoprak kehilangan media untuk berekspresi, sedangkan para pelaku muda ketoprak kehilangan peluang untuk belajar dan praktik langsung. Harus diakui, tobong ketoprak merupakan "universitas" sekaligus pasar. Di sini, orang digodok kemampuannya sekaligus "menjual" jasa kreatifnya.
Media lain yang hilang adalah tradisi ketoprak di TV. Waktu itu, TVRI Stasiun Yogyakarta aktif memproduksi acara ketoprak yang mampu menyerap para pelaku ketoprak.
Sedangkan faktor internal, lebih terkait dengan tradisi dunia ketoprak itu sendiri yang menggunakan sistem bintang atau pemain yang sudah jadi. Orientasi pada hasil dan bukan pada proses ini juga disebabkan tradisi komersial tanggapan (undangan main). Memasang pemain-pemain muda dianggap pilihan yang riskan. Jika hasilnya kurang memuaskan, si penanggap akan kecewa. Kini, ketika belum ada media panggung yang secara permanen menyajikan ketoprak, tradisi festival diharapkan bisa melakukan regenerasi.
Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 ini sengaja dikemas dalam format sebuah kethoprak garapan, agar diharapkan mampu melahirkan format pemanggungan kethoprak yang lebih baik.
Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 ini, berbeda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya, peserta dipilih oleh pihak Pemkab/Pemkot yang ada, namun tahun ini peserta lomba melalui tahapan festival antar kecamatan dahulu. Setelah mampu dilolos ditingkat Kabupaten/Kota, peserta yang juara maju untuk mewakili di tingkat propinsi. Ide ini muncul, sebagi upaya untuk mencari bibit-bibit baru dan usaha menjawab persoalan regenerasi kethoprak di DIY.
Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008, direncanakan akan dimulai 18 November 2008, dan berkahir pada 20 November 2008, dan bertempat di Gedung Societed, Taman Budaya Yogyakarta. Acara dimulai pukul 20.00 WIB sampai dengan selesai.
Dalam pelaksanaan Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 ini, Pihak Taman Budaya Yogyakarta, selaku panitya pelaksana, sengaja menghadirkan nara sumber Bondan Nusantara, M. Sugiharto, Mardjijo, Drs. Untung Mulyono, dan Y. Subowo. Adapun dewan juri yang akan menilai nanti Ign. Wahono (Seniman Kethoprak), Indra Tranggono (Budayawan), Drs. Trustho, M.Hum (Seniman Karawitan), Nanang Arizona, S.Sn (Dosen ISI), Hanindawan (Teaterwan Solo).
Salam Budaya
Stage Manager
Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008
Agus Setiawan (085228014565)
Berangkat dari hal diatas itulah Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 se-DIY menjadi penting, sebagai upaya untuk melestarikan kesenian kethoprak. Selain itu, keberadaan Festival Kethoprak ini juga diharapkan mampu menjawab persolan regenerasi pelukan kethoprak yang selama ini menjadi keprihatinan para pelaku dan pencinta kethoprak.
Bondan Nusantara, tokoh ketoprak dan mantan pengurus FKKB adalah salah satu yang merasa prihatin atas degenerasi ketoprak di DIY. Ia khawatir ketoprak akan punah. Untuk itu, dibutuhkan pembibitan dan penyegaran. Festival ketoprak antar pelajar menjadi salah satu jawaban.
Seretnya regenerasi ketoprak di DIY terjadi setelah akhir era 1980-an. Banyak faktor yang jadi kendala: eksternal dan internal. Secara eksternal, di Yogyakarta dan sekitarnya tidak lagi ada tobong (panggung permanen) ketoprak seperti pada era 1960-1980-an.
Pada era tersebut kita bisa menyebut beberapa grup ketoprak yang nobong, antara lain, Ringin Dahana, Kridha Mardi, Sapta Mandala, PS Bayu Gito-Gati dan Sinar Mataram, serta Padmanaba. Akhir 1980-an, Ketoprak Surya Budaya pimpinan aktor Widayat main di Panggung bekas THR (sekarang Purawisata), namun tidak setiap hari.
Hilangnya tobong ketoprak menjadikan para pelaku ketoprak kehilangan media untuk berekspresi, sedangkan para pelaku muda ketoprak kehilangan peluang untuk belajar dan praktik langsung. Harus diakui, tobong ketoprak merupakan "universitas" sekaligus pasar. Di sini, orang digodok kemampuannya sekaligus "menjual" jasa kreatifnya.
Media lain yang hilang adalah tradisi ketoprak di TV. Waktu itu, TVRI Stasiun Yogyakarta aktif memproduksi acara ketoprak yang mampu menyerap para pelaku ketoprak.
Sedangkan faktor internal, lebih terkait dengan tradisi dunia ketoprak itu sendiri yang menggunakan sistem bintang atau pemain yang sudah jadi. Orientasi pada hasil dan bukan pada proses ini juga disebabkan tradisi komersial tanggapan (undangan main). Memasang pemain-pemain muda dianggap pilihan yang riskan. Jika hasilnya kurang memuaskan, si penanggap akan kecewa. Kini, ketika belum ada media panggung yang secara permanen menyajikan ketoprak, tradisi festival diharapkan bisa melakukan regenerasi.
Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 ini sengaja dikemas dalam format sebuah kethoprak garapan, agar diharapkan mampu melahirkan format pemanggungan kethoprak yang lebih baik.
Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 ini, berbeda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya, peserta dipilih oleh pihak Pemkab/Pemkot yang ada, namun tahun ini peserta lomba melalui tahapan festival antar kecamatan dahulu. Setelah mampu dilolos ditingkat Kabupaten/Kota, peserta yang juara maju untuk mewakili di tingkat propinsi. Ide ini muncul, sebagi upaya untuk mencari bibit-bibit baru dan usaha menjawab persoalan regenerasi kethoprak di DIY.
Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008, direncanakan akan dimulai 18 November 2008, dan berkahir pada 20 November 2008, dan bertempat di Gedung Societed, Taman Budaya Yogyakarta. Acara dimulai pukul 20.00 WIB sampai dengan selesai.
Dalam pelaksanaan Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 ini, Pihak Taman Budaya Yogyakarta, selaku panitya pelaksana, sengaja menghadirkan nara sumber Bondan Nusantara, M. Sugiharto, Mardjijo, Drs. Untung Mulyono, dan Y. Subowo. Adapun dewan juri yang akan menilai nanti Ign. Wahono (Seniman Kethoprak), Indra Tranggono (Budayawan), Drs. Trustho, M.Hum (Seniman Karawitan), Nanang Arizona, S.Sn (Dosen ISI), Hanindawan (Teaterwan Solo).
Salam Budaya
Stage Manager
Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008
Agus Setiawan (085228014565)
Undangan Upacara Seren Taun Guru Bumi
Sampurasun!
Sang Rama Kampung budaya Sindangbarang Bogor mengundang anggota
milist untuk menghadiri Upacara Adat Seren Taun Kampung Budaya
Sindangbarang bogor yang akan dilaksanakan pada tanggal 5 januari
sampai dengan 11 Januari 2009.Adapun susunan acaranya sebagai berikut:
5 Januari : Upacara Netepkeun
6 Januari : Ngembang ke makam leluhur
7 Januari : Upacara Sudat dan Ngalage
8 Januari : Sebret kasep
9 Januari : Ngukuluan dan Tausiah
10 Januari: Sedekah kue, Helaran, Nugel Munding ,Sedekah daging dan
Pagelaran seni Sunda di 2 panggung hiburan
11 Januari: Helaran, Majiekeun pare, Parebut dongdang, Pagelaran Seni
sunda.
Undangan ini terbuka untuk umum, bilamana ada yang berminat untuk
datang bisa registrasi melalui email maki_sumawijaya@ cbn.net.id Acara
ini tidak dipungut biaya.
Demikian undangan ini disampaikan atas perhatiannya Saya ucapkan
terimakasih
Sampurasun
Sang Rama
Maki Sumawijaya
Sang Rama Kampung budaya Sindangbarang Bogor mengundang anggota
milist untuk menghadiri Upacara Adat Seren Taun Kampung Budaya
Sindangbarang bogor yang akan dilaksanakan pada tanggal 5 januari
sampai dengan 11 Januari 2009.Adapun susunan acaranya sebagai berikut:
5 Januari : Upacara Netepkeun
6 Januari : Ngembang ke makam leluhur
7 Januari : Upacara Sudat dan Ngalage
8 Januari : Sebret kasep
9 Januari : Ngukuluan dan Tausiah
10 Januari: Sedekah kue, Helaran, Nugel Munding ,Sedekah daging dan
Pagelaran seni Sunda di 2 panggung hiburan
11 Januari: Helaran, Majiekeun pare, Parebut dongdang, Pagelaran Seni
sunda.
Undangan ini terbuka untuk umum, bilamana ada yang berminat untuk
datang bisa registrasi melalui email maki_sumawijaya@ cbn.net.id Acara
ini tidak dipungut biaya.
Demikian undangan ini disampaikan atas perhatiannya Saya ucapkan
terimakasih
Sampurasun
Sang Rama
Maki Sumawijaya
31/10/08
Festival Film Dokumenter 2008
Kami mengajak anda untuk bergabung di Kompetisi Festival Film Dokumenter 2008. yang akan diselenggarakan pada tanggal 6-13 Desember 2008.
Formulir dan karya anda, kami tunggu paling lambat 31 Oktober 2008
Kami tunggu Karya anda tahun ini.
Sukses selalu.
salam hangat kami
komunitas dokumenter
Festival Film Dokumenter
Jl. Sajiono no.15, Kotabaru
Yogyakarta 55224
t : [0274] 710.2672
f : [0274] 624.778
w : www.festivalfilmdo kumenter. org
e : ffdnews@yahoo. com atau ffdnews@gmail. com
b : festivalfilmdokumen ter. blogspot. com
Formulir dan karya anda, kami tunggu paling lambat 31 Oktober 2008
Kami tunggu Karya anda tahun ini.
Sukses selalu.
salam hangat kami
komunitas dokumenter
Festival Film Dokumenter
Jl. Sajiono no.15, Kotabaru
Yogyakarta 55224
t : [0274] 710.2672
f : [0274] 624.778
w : www.festivalfilmdo kumenter. org
e : ffdnews@yahoo. com atau ffdnews@gmail. com
b : festivalfilmdokumen ter. blogspot. com
Langganan:
Postingan (Atom)